Entah mengapa waktu terasa lama berjalan ketika tak ada hadirmu disisi.
Jarum jam terasa melemah dan melamban tanpa tahu bagaimana sesak yang kurasa
karena merindumu. Satu minggu tanpa mampu melihat senyum simpulmu, mendengar
setiap tawa dan candamu, suatu hal yang tak biasa bagiku. Setidaknya aku ingin
tahu bagaimana keadaanmu atau kabarmu, entah sekadar senda gurau dari
teman-temanmu yang mampir ketelingaku atau memang tutur katamu yang selalu
terdengar. Harusnya aku mampu belajar memendam rindu menggebu yang menuntut
suatu pertemuan.
Kamu penguasa hatiku. Aku tak kuasa menahan beban rindu yang teramat
berat. Aku berusaha menenggelamkan bayangmu dari pikirku, namun semakin jelas
sosokmu. Sesekali kenangan kita bersama kembali ke permukaan. Bagaimana kau
memanjakanku penuh kehangatan, mengusap-usap kepalaku dengan kelembutan,
genggaman tanganmu dan sesekali dekapan erat. Ya, aku memang merindukanmu,
merindukan kebersamaan kita yang mampu membuat mereka iri dan memandang kita
penuh kagum.
Aku kembali terdiam mengingat jarak diantara rinduku untukmu. Aku hanya
mampu memelukmu dalam doa, berharap untuk tetap bersama apapun rintangannya.
Kerikil tajam, belokan, sesekali tanjakan terkadang hadir menghadang, tapi ini
bukan jalan buntu. Kamu pemilik hatiku, keyakinanku selalu untukmu, apapun
hujan badai yang hadir, aku dan kamu, kita akan mampu melewati. Meski terkadang
terselip duka dan air mata, aku percaya, akan hadir pelangi yang indah, akan
ada kebahagiaan hakiki yang siap tuk kita raih.
Cepatlah kembali, aku merindukanmu tanpa lelah. Merindukanmu tanpa kenal
waktu. Datanglah dan tuntaskan rinduku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar