Jumat, 20 Februari 2015

aku bersama hati yang enggan tuk melupa



Entah apakah aku harus mengatakan bahwa aku baik-baik saja? Atau aku harus berusaha jujur, terlebih pada diriku sendiri bahwa ternyata aku tak baik-baik saja.

Aku hanya terlalu sering menatap layar kaca menginginkan cerita kita akan sama halnya dengan mereka, mampu tertawa bersama, berbagi suka dan duka, aku memilikimu dan kamu memilikiku.
Bahkan sampai detik ini aku tak pernah menemukan alasan itu dimatamu. Apakah aku yang terlalu bodoh atau kamu yang terlalu pintar membawa perjalanan kita sejauh ini tanpa pernah aku merasa bahwa kita sesungguhnya tidak baik-baik saja.

Yang kasat mata kau mencintaiku layaknya aku mencintaimu, menyanjungku penuh bangga, memerhatikan penuh kesungguhan. Tanpa disadari bahwa nyatanya semua semu. 

Aku tetap menguatkan hati, aku tetap tersenyum dalam duka, berusaha menganggap bahwa semua akan baik-baik saja. 

Meski pada nyatanya aku berjalan bersama hati yang enggan melupa. Bersama hati yang enggan tuk menutup masa lalu. Bersama hati yang berusaha kuat untuk menerimaku sebagai satu-satunya.
Aku akan tetap bertahan hingga waktu dan hati yang memintaku tuk berhenti memerjuangkan, hingga hatiku tak lagi menginginkan, hingga aku tak lagi memperdulikan.


Aku yang akan selalu berusaha menerima hatimu yang terbagi


Rabu, 28 Januari 2015

Perasaanku tak sebercanda itu



Jika menelisik waktu lalu, bagaimana aku dan kamu menjadi kita rasanya amat sangat mustahil mampu bersama, duduk bersampingan menghabiskan waktu tuk bersenda gurau dan berbagi cerita. Mana mungkin waktu yang singkat mampu membuatku melabuhkan hati padamu. Terang saja aku baru terluka namun memberanikan diri tuk kembali bergelut dengan perasaan yang sewaktu-waktu dapat melukaiku dan melumpuhkanku. Namun apa salahnya mencintai seseorang?!! 

Just for fun, iseng, siapa tau cocok. Berapa banyak kata lagi yang menggambarkan kekonyolan dan ketidakseriusan hubungan ini terjalin. Semua serba dilatarbelakangi “ya kali aja”. Banyak tawa yang tercipta, banyak senda gurau renyah yang entah kemana alirannya bermuara. Setiap patah kata diakhiri dengan tawa, siapa yang menyangka akan ada keseriusan di dalamnya. Bahkan disaat terucap sebuah penerimaan “iya aku mau” masih saja terlontar tawa. Entahlah, siapa yang mampu menerka waktu yang akan datang.

Namun detik ini, saat ini juga. Perasaan yang dulu mampu ditertawakan kini telah berubah menjadi perasaan yang tak mampu untuk digantikan. Tak pernah ada pertengkaran atau perbedaan yang menciptakan amarah juga rasa kecewa yang berarti. Diam-diam mulai menikmati rasa hati berdebar-debar kala jemari bersambut, tawa bertaut. Separah tawa canda kita dulu, kini perasaanku tak sebercanda itu.

Teruntuk kamu yang selalu kuperjuangkan dalam doa juga langkah, meski terkadang terselip banyak perbedaan tanpa lelah kita hadapi.

Rabu, 23 Juli 2014

I love you, but, I’m sorry............



Aku selalu menikmati setiap waktu yang kuhabiskan bersamamu, terlewati bersamamu. Candamu yang menggelitik selalu mengisi hari-hariku. Meski semua terasa sederhana, namun ini kebahagiaan yang sempurna. Memilikimu sebagai seseorang yang mampu menerima setiap kekuranganku, melengkapi kelemahanku, melangkah bersama tanpa harus menunjukkan siapa yang jauh lebih sempurna. Selalu ada disisi dalam suka dan duka, dalam tawa dan air mata. Memiliki bukan tentang rupawan dan penampilan, namun ini tentang kenyamanan dan rasa aman. Tak ada yang perlu dipaksakan untuk menciptakan kebahagiaan karena ketika saling memiliki dan mencintai, ketulusanlah yang akan membawa menuju kebahagiaan. Ya, itu kutemukan dalam dirimu, dalam hadirmu, yang mampu membuatku menjadi apa adanya aku tanpa melebih-lebihkan sedikitpun. Selalu terselip rindu ketika mata tak saling beradu. Karena itu cinta, iya, ketika sedikit sentuhan membuat aman, ketika tatapan mata membuat hati bergetar saat itulah kurasa cinta. Meninggalkan jejak, memberi kenangan dan menguatkan.



Namun hati ini tak mampu kuberikan sepenuhnya, kuberikan separuh hatiku dipertama kali kita merajut kebahagiaan dan separuhnya seiring berjalannya waktu. Aku pernah terluka dan tak ingin kembali merasakannya. Meski sebenarnya ingin sepenuh hati ini kuberikan, namun aku ingat bahwa aku pernah gagal dalam menjaga hati. Bukan berarti aku takut dalam melangkah untuk kembali melabuhkan hati, aku hanya lebih berhati-hati. Tak berarti pula aku mempermainkan hati yang telah ikhlas dan tulus untuk menyayangiku, hanya saja aku belajar untuk menahan seluruh perasaanku. Aku perlu belajar dan memahami seiring berjalannya waktu lalu membiarkan rasa ini tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu aku paksakan.



Untuk kamu penjaga hatiku, yang telah tulus dan ikhlas menjaga hatiku. Biarkan aku menjaga dan terus mengembangkan apa yang telah bertahta dihatiku seiring berjalannya waktu. Karena di dalam hati ini telah bertahta hadirmu dan dalam pikirku hanya ada bayangmu. Tanpa terus memaksakan keadaan dan membiarkan semua indah pada waktunya. Bersabarlah sayang, hati ini akan tetap untukmu.



Aku yang selalu belajar untuk mencintai sama halnya denganmu, hingga tiada luka yang terukir dan hanya kebahagiaan yang tergambar

Sabtu, 19 Juli 2014

Semua Akan Indah Pada Waktunya





Sabar, semua akan indah pada waktunya, banyak orang bilang demikian. Namun, mengapa aku merasa lelah dengan kesabaranku selama ini. Apa mungkin aku terlalu menggebu-gebu untuk menemukan belahan jiwa yang aku anggap mampu menciptakan kebahagiaan yang akhirnya mengukir luka dan air mata. Kapan keindahan itu akan hadir? Atau aku yang kurang bersabar untuk menanti keindahan itu. Lalu sabar seperti apa lagi yang harus aku lakukan? Sabar seperti apa yang harus aku ciptakan? bukankah sudah banyak luka yang ditorehkan dihatiku, bahkan membuatku mati rasa dengan semua yang terjadi. Hatiku penuh luka, goresan, namun itu pula yang menguatkanku. Aku hanya perlu berpikir positif dengan kesabaranku, bukankah Tuhan telah menulis skenario yang indah dengan aku sebagai pemerannya. Lalu apa lagi yang harus aku ragukan? Bukankah sudah pasti akan berakhir indah dan bahagia. 

Aku hanya perlu belajar untuk jauh lebih sabar dalam menanti meski banyak yang hadir lalu pergi tanpa sempat untuk aku miliki. Meski tetap mengukir lara bahkan dengan tetesan air mata. Bukankah akan hadir seseorang yang mampu menjaga hatiku, menciptakan kebahagiaan tanpa harus melukai. Aku hanya perlu bersabar untuk menunggu, berusaha dan berdoa. Tuhan hanya tidak mengizinkan aku untuk terluka lebih lama, menghabiskan waktu dengan orang yang salah. Memberiku waktu dan kesempatan untukku memantas diri hingga hadir seseorang yang tepat dan memang pantas untuk bersanding denganku dan tumbuh bersama, yang menerimaku dan siap melengkapi segala kekuranganku tanpa menuntut kesempurnaan. Bukankah itu rencana Tuhan, menghadirkan hati dan cinta yang tepat diwaktu yang tepat pula. Disaat hatiku dan hatinya memang pantas untuk bersama.

Aku yang masih dalam proses bersabar, semoga demikian denganmu. Hingga kita mampu bersama tanpa perlu memaksakan waktu.

Selasa, 15 Juli 2014

Aku Perlu Alasan



Apa yang lebih menyakitkan dari ditinggalkan tanpa alasan yang jelas. Berkali-kali kuulangi pertanyaanku hingga kau lelah bahkan bosan untuk mengulangi jawabanmu. Karena tak kutemukan jawaban dan alasan yang tak seharusnya menyebabkan kita berakhir. Berkali-kali kau utarakan aku terlalu baik untukmu, jika memang itu yang menjadi sebab kandasnya kita, aku mampu menjadi seseorang yang tak lagi kau anggap baik, agar kau tetap bertahan. Namun kembali kau palingkan pandangmu dari mataku. Seolah-olah kau sedang mencari alasan kembali, alasan yang membuatku untuk mengatakan iya dengan perpisahan yang sama sekali tak kuhendaki. Kau tak mampu lagi menatap jauh ke dalam mataku, karena aku tahu, takkan pernah kau temukan alasan untuk kau pergi di dalamnya. Lalu, apalagi? Aku memintamu menemuiku bukan untuk saling diam atau membisu dan membiarkan waktu yang menjawab, karena aku tahu itu akan terlalu lama. Kembali kau rangkai kata “tak seharusnya aku menemuimu, karena aku takkan sanggup mengatakannya”. Apa yang kau minta? Melepasmu tanpa tahu alasan yang pantas, membiarkan hingga semua kembali baik-baik saja seperti dulu. 

Percuma, untuk apa memintamu bertahan, karena kau tetap akan melepasku, cepat atau lambat. Untuk apa pula memintamu tetap disini, dihatiku. Untuk apa pula aku menanyakan masihkah rasa sayang itu ada jika sudah jelas “aku gak tau apa yang aku rasain”. Aku melepasmu, bukan karena aku tak mencintaimu lagi. Tapi untuk apa memerjuangkan seseorang yang tak ingin lagi untuk diperjuangkan. Bukankah jika memang saling mencintai, akan saling memerjuangkan. Aku mengiyakan perpisahan bukan karena tak ada lagi namamu dihatiku, tapi aku tahu memaksapun juga percuma, aku hanya sedang melindungi hati untuk tak tersakiti lebih jauh. Bukankah jika kau memang benar mencintai takkan pernah melukai dan menyakiti dengan perpisahan. Sekalipun seiring waktu kau berusaha menyembuhkan, luka itu memang mengering dan sembuh, namun akan tetap meninggalkan bekas.

Jika memang kemarin aku dan kamu masih menjadi kita, mengukir jalan untuk masa depan bersama. Hari ini, aku dan kamu tetaplah aku dan kamu yang memiliki jalan berbeda untuk masa depan kita sendiri. Bukan berarti pula aku mampu melepasmu begitu saja, dalam setiap pintaku aku berharap sederhana “jika memang dapat kembali semoga penantian itu tak lama, namun jika memang jalan ini berbeda, bantu tuk lalui tanpa harus saling melukai”. Meski aku tahu bahwa itu berat.

Mungkin perpisahan adalah cara Tuhan memberi kita waktu memantaskan diri terlebih dahulu untuk menyambut cinta yang sesungguhnya. Meski penuh hantaman dan luka, hati ini masih berbentuk. Hati ini tak sepenuhnya hancur. Karena aku masih mampu menyambut hariku ada atau tanpa hadirmu. Aku hanya perlu membuktikan bahwa aku akan tetap menjadi aku, akan tetap  menciptakan kebahagiaanku sendiri.

“terima kasih untuk waktu yang singkat dengan hadirmu meski pada akhirnya tetap mengukir lara. Karenamu aku menjadi lebih kuat”