Apa yang lebih menyakitkan dari ditinggalkan tanpa alasan yang jelas. Berkali-kali
kuulangi pertanyaanku hingga kau lelah bahkan bosan untuk mengulangi jawabanmu.
Karena tak kutemukan jawaban dan alasan yang tak seharusnya menyebabkan kita
berakhir. Berkali-kali kau utarakan aku terlalu baik untukmu, jika memang itu
yang menjadi sebab kandasnya kita, aku mampu menjadi seseorang yang tak lagi
kau anggap baik, agar kau tetap bertahan. Namun kembali kau palingkan pandangmu
dari mataku. Seolah-olah kau sedang mencari alasan kembali, alasan yang
membuatku untuk mengatakan iya dengan perpisahan yang sama sekali tak
kuhendaki. Kau tak mampu lagi menatap jauh ke dalam mataku, karena aku tahu,
takkan pernah kau temukan alasan untuk kau pergi di dalamnya. Lalu, apalagi? Aku
memintamu menemuiku bukan untuk saling diam atau membisu dan membiarkan waktu
yang menjawab, karena aku tahu itu akan terlalu lama. Kembali kau rangkai kata “tak seharusnya aku menemuimu, karena aku
takkan sanggup mengatakannya”. Apa yang kau minta? Melepasmu tanpa tahu
alasan yang pantas, membiarkan hingga semua kembali baik-baik saja seperti
dulu.
Percuma, untuk apa memintamu bertahan, karena kau tetap akan melepasku,
cepat atau lambat. Untuk apa pula memintamu tetap disini, dihatiku. Untuk apa
pula aku menanyakan masihkah rasa sayang itu ada jika sudah jelas “aku gak tau apa yang aku rasain”. Aku melepasmu,
bukan karena aku tak mencintaimu lagi. Tapi untuk apa memerjuangkan seseorang
yang tak ingin lagi untuk diperjuangkan. Bukankah jika memang saling mencintai,
akan saling memerjuangkan. Aku mengiyakan perpisahan bukan karena tak ada lagi
namamu dihatiku, tapi aku tahu memaksapun juga percuma, aku hanya sedang melindungi
hati untuk tak tersakiti lebih jauh. Bukankah jika kau memang benar mencintai
takkan pernah melukai dan menyakiti dengan perpisahan. Sekalipun seiring waktu
kau berusaha menyembuhkan, luka itu memang mengering dan sembuh, namun akan
tetap meninggalkan bekas.
Jika memang kemarin aku dan kamu masih menjadi kita, mengukir jalan
untuk masa depan bersama. Hari ini, aku dan kamu tetaplah aku dan kamu yang
memiliki jalan berbeda untuk masa depan kita sendiri. Bukan berarti pula aku
mampu melepasmu begitu saja, dalam setiap pintaku aku berharap sederhana “jika memang dapat kembali semoga penantian
itu tak lama, namun jika memang jalan ini berbeda, bantu tuk lalui tanpa harus
saling melukai”. Meski aku tahu bahwa itu berat.
Mungkin perpisahan adalah cara Tuhan memberi kita waktu memantaskan diri
terlebih dahulu untuk menyambut cinta yang sesungguhnya. Meski penuh hantaman
dan luka, hati ini masih berbentuk. Hati ini tak sepenuhnya hancur. Karena aku
masih mampu menyambut hariku ada atau tanpa hadirmu. Aku hanya perlu
membuktikan bahwa aku akan tetap menjadi aku, akan tetap menciptakan kebahagiaanku sendiri.
“terima kasih untuk waktu yang
singkat dengan hadirmu meski pada akhirnya tetap mengukir lara. Karenamu aku
menjadi lebih kuat”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar