Jika menelisik waktu lalu, bagaimana aku dan kamu menjadi kita rasanya
amat sangat mustahil mampu bersama, duduk bersampingan menghabiskan waktu tuk
bersenda gurau dan berbagi cerita. Mana mungkin waktu yang singkat mampu
membuatku melabuhkan hati padamu. Terang saja aku baru terluka namun
memberanikan diri tuk kembali bergelut dengan perasaan yang sewaktu-waktu dapat
melukaiku dan melumpuhkanku. Namun apa salahnya mencintai seseorang?!!
Just for fun, iseng, siapa tau cocok. Berapa banyak kata
lagi yang menggambarkan kekonyolan dan ketidakseriusan hubungan ini terjalin. Semua
serba dilatarbelakangi “ya kali aja”.
Banyak tawa yang tercipta, banyak senda gurau renyah yang entah kemana alirannya
bermuara. Setiap patah kata diakhiri dengan tawa, siapa yang menyangka akan ada
keseriusan di dalamnya. Bahkan disaat terucap sebuah penerimaan “iya aku mau” masih saja terlontar tawa. Entahlah,
siapa yang mampu menerka waktu yang akan datang.
Namun detik ini, saat ini juga. Perasaan yang dulu mampu ditertawakan
kini telah berubah menjadi perasaan yang tak mampu untuk digantikan. Tak pernah
ada pertengkaran atau perbedaan yang menciptakan amarah juga rasa kecewa yang
berarti. Diam-diam mulai menikmati rasa hati berdebar-debar kala jemari
bersambut, tawa bertaut. Separah tawa canda kita dulu, kini perasaanku tak
sebercanda itu.
Teruntuk kamu yang selalu kuperjuangkan dalam doa juga langkah, meski
terkadang terselip banyak perbedaan tanpa lelah kita hadapi.