Rabu, 28 Januari 2015

Perasaanku tak sebercanda itu



Jika menelisik waktu lalu, bagaimana aku dan kamu menjadi kita rasanya amat sangat mustahil mampu bersama, duduk bersampingan menghabiskan waktu tuk bersenda gurau dan berbagi cerita. Mana mungkin waktu yang singkat mampu membuatku melabuhkan hati padamu. Terang saja aku baru terluka namun memberanikan diri tuk kembali bergelut dengan perasaan yang sewaktu-waktu dapat melukaiku dan melumpuhkanku. Namun apa salahnya mencintai seseorang?!! 

Just for fun, iseng, siapa tau cocok. Berapa banyak kata lagi yang menggambarkan kekonyolan dan ketidakseriusan hubungan ini terjalin. Semua serba dilatarbelakangi “ya kali aja”. Banyak tawa yang tercipta, banyak senda gurau renyah yang entah kemana alirannya bermuara. Setiap patah kata diakhiri dengan tawa, siapa yang menyangka akan ada keseriusan di dalamnya. Bahkan disaat terucap sebuah penerimaan “iya aku mau” masih saja terlontar tawa. Entahlah, siapa yang mampu menerka waktu yang akan datang.

Namun detik ini, saat ini juga. Perasaan yang dulu mampu ditertawakan kini telah berubah menjadi perasaan yang tak mampu untuk digantikan. Tak pernah ada pertengkaran atau perbedaan yang menciptakan amarah juga rasa kecewa yang berarti. Diam-diam mulai menikmati rasa hati berdebar-debar kala jemari bersambut, tawa bertaut. Separah tawa canda kita dulu, kini perasaanku tak sebercanda itu.

Teruntuk kamu yang selalu kuperjuangkan dalam doa juga langkah, meski terkadang terselip banyak perbedaan tanpa lelah kita hadapi.