Entah apakah aku harus mengatakan bahwa aku baik-baik saja? Atau aku
harus berusaha jujur, terlebih pada diriku sendiri bahwa ternyata aku tak
baik-baik saja.
Aku hanya terlalu sering menatap layar kaca menginginkan cerita kita
akan sama halnya dengan mereka, mampu tertawa bersama, berbagi suka dan duka,
aku memilikimu dan kamu memilikiku.
Bahkan sampai detik ini aku tak pernah menemukan alasan itu dimatamu. Apakah
aku yang terlalu bodoh atau kamu yang terlalu pintar membawa perjalanan kita
sejauh ini tanpa pernah aku merasa bahwa kita sesungguhnya tidak baik-baik
saja.
Yang kasat mata kau mencintaiku layaknya aku mencintaimu, menyanjungku
penuh bangga, memerhatikan penuh kesungguhan. Tanpa disadari bahwa nyatanya
semua semu.
Aku tetap menguatkan hati, aku tetap tersenyum dalam duka, berusaha
menganggap bahwa semua akan baik-baik saja.
Meski pada nyatanya aku berjalan bersama hati yang enggan melupa.
Bersama hati yang enggan tuk menutup masa lalu. Bersama hati yang berusaha kuat
untuk menerimaku sebagai satu-satunya.
Aku akan tetap bertahan hingga waktu dan hati yang memintaku tuk
berhenti memerjuangkan, hingga hatiku tak lagi menginginkan, hingga aku tak
lagi memperdulikan.
Aku yang akan selalu berusaha
menerima hatimu yang terbagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar